Minggu, 03 Mei 2020

Laporan Praktikum PMM-A Uji Boraks Secara Kualitatif pada Sampel Bahan Pangan

MATA KULIAH      : PMM-A
DOSEN PMA           : KHIKI PURNAWATI KASIM, S.ST, M.KES
 
LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN-A
PEMERIKSAAN BORAKS PADA SAMPEL BAHAN PANGAN


DISUSUN OLEH:
HASVERAWANTI
PO714221181016
D.IV/II.A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV SARJANA TERAPAN
TAHUN 2020


1.      DASAR TEORI

A.     Bahan Tambahan Pangan(BTP)

Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.
Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur, dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin.
Pemakaian BTP yang aman merupakan pertimbangan yang penting. Jumlah BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang diizinkan untuk digunakan dalam pangan harus merupakan kebutuhan minimum untuk mendapatan pegaruh yang dikehendaki. Pada prinsipnya konsumen harus diberi informasi adanya bahan tambahan pangan (BTP) dalam bahan baku makanan. Pernyataan yang tertera atau etiket harus diberikan informasi adanya BT (Bahan Tambahan Pangan) kepada konsumen. Hal ini merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut (Baliwati, 2004).

 B. Boraks
Boraks adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat.
Senyawa-senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut : jarak lebur sekitar 171o C. Larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85%, dan tidak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tartrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 1000 C yang secara perlahan berubah menjad asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dengan garam alkalinya bersifat basa, mempunyai bobot molekul 61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Khamid, 2006).
Pengaruhnya terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh, boraks merupakan racun bagi semua sel. Kadar tertinggi tercapai pada waktu diekstraksi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ yang lain.

C. Penyalahgunaan Boraks pada Makanan
Boraks meskipun bukan pengawet makanan sering pula digunakan sebagai pengawet makanan, selain sebagai pengawet, bahan ini berfungsi pula mengenyalkan makanan. Makanan yang sering ditambahakan boraks diantaranya adalah bakso, sosis, nugget, mie, kerupuk dan lontong. Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan-kekenyalan bakso khas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging. Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, tekstur bagus dan renyah. Ikan basah yang tidak rusak selama 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin. Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin. Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar 25°C, berbau menyengat, kenyal, tidak lengket, dan agak mengkilap (Yuliarti, 2007)

2.      TUJUAN

a)      Untuk mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung boraks.
b)      Untuk mengetahui cara mengidentifisasi sampel bahan pangan mengandung boraks atau tidak.

3.      ALAT DAN BAHAN
·         Alat
a)      Piring/wadah sampel
b)      Tusuk bambu
·         Bahan
a)      Sampel Bakso
b)      Rimpang kunyit/Kunyit basah

4.      PROSEDUR KERJA
a)      Siapkan alat dan bahan
b)      Ambil 2 buah tusuk bambu lalu tusukkkan pada rimpang kunyit . Yang 1 untuk sampel makanan dan 1 nya lagi untuk sampel pembanding
c)      Kemudian, cabut tusuk bambu tersebut lalu tusukkan pada sampel bakso, lalu diamkan selama 1 menit
d)     Amati hasil perubahan warna yang terjadi pada ujung tusuk bambu
e)      Catat hasil

5.      HASIL
Pada pemeriksaan ini, hasil yang di dapatkan adalah Negatif. Karena, tidak adanya perubahan warna pada ujung tusuk bambu.

6.      ANALISA HASIL
Boraks maupun asam borat sebenarnya digunakan dalam industri non pangan karena memiliki sifat antiseptik dan biasa digunakan dalam industri farmasi sebagai ramuan obat seperti salep, bedak, obat pencuci mata, obat oles mulut, solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik, dan pengontrol kecoa (Suhada dan Rikky, 2012). Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan
a.       Tusuk bambu yang telah ditusukkan pada rimpang kunyit lalu di tusukkan pada bakso tidak mengalami perubahan warna yang menandakan bakso tersebut negatif boraks,

b.      KESIMPULAN
Berdasarkan pemeriksaan  yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
a)      Bahan makanan yang mengandung boraks akan lebih kenyal dan tidak mudah busuk(hancur)
b)      Apabila sampel yang mengandung boraks diuji dengan menggunakan kunyit maka akan menghasilkan warna merah kecoklatan.
c)      Sampel bahan pangan (bakso) yang diuji dinyatakn negatif mengandung boraks.